Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Sunday, June 19, 2011

Anak Tangga

hidup itu bagaikan sebuah rangkaian anak tangga.
anak tangga yang terbentang begitu jauh dan begitu tinggi.
kita ada di dunia ini untuk terus meniti anak tangga ini, untuk terus menjalani hidup kita.
kita terus berusaha, namun ada kalanya, karena kita tidak waspada, ada saja hal yang membuat kita terpaksa terjatuh dan merosot dari anak tangga ini.
sakit. itu memang kenyataannya.

tapi apakah kita boleh mengeluh? apakah kita pasrah dengan kenyataan ini?
tentu saja tidak. itu tidak boleh.
kita harus tetap berjalan ke atas, kembali meniti anak tangga tersebut.
dengan rasa sakit yang masih mendera, kita harus percaya bahwa kita terus melangkah, kita masih bisa terus berjalan.
jangan kalah pada ketakutan atas kejatuhan berikutnya, rasa sakit yang akan kembali mendera.

kita berusaha, dan kita percaya bahwa kita tak pernah sendiri.
karena selalu ada Tuhan untuk membantu kita, menopang kita di saat kita jatuh, menuntun kita untuk terus melangkah.
Tuhan yang Baik itu akan selalu ada untuk terus bersama kita.
Percayalah. Tak ada percobaan yang tidak bisa diatasi.
God is Good all the time. :))

Tuesday, April 19, 2011

korban 'bahagia' sistem pendidikan

Ujian Akhir Nasional atau Ujian Negara atau apapun lah namanya itu. Sekali lagi aku mendengar nama itu disebut lagi tahun ini. Berbagai memori kembali berputar di dalam benakku, bagaikan video-video tua yang tersimpan di dalam salah satu folder tersembunyi di dalam kepalaku. Video-video tua dan sederhana itu menampilkan wajah-wajah tegang dari orang-orang yang kukenali. Ah... bukan hanya wajah tegang, namun marah, lelah... bercampur tawa, tangis.


Aku merindukan masa-masa itu.


Masih bermain dengan begitu jelas di layar otakku, kenangan-kenangan yang terlewati pada masa menjelang ujian. wajah-wajah stress yang tengah berkutat dengan sejumlah angka dan bahasa-bahasa aneh (baca : bahasa latin) yang bahkan tidak kami ketahui apa dan darimana asalnya.. wajah-wajah muak lelah karena menghabiskan sebagian besar hari di dalam sekolah tua itu.


Tapi sesungguhnya aku tidak pernah membenci segala sesuatu yang membuat wajah kami buruk rupa seperti itu. Semua benar-benar terbayarkan dengan rasa senasib dan sepenanggungan yang kami miliki sebagai korban sistem pendidikan negara ini.


HAHAHAHA


Ironis memang. Sistem pendidikan negara ini yang tetap saja berjalan di tempat alias tidak ada perbaikan justru menciptakan memori indah sendiri bagi para korbannya.


Ketengangan, ketakutan dalam menghadapi UAN yang dirasakan hampir seluruh rekan senasib kita menimbulkan rasa solidaritas yang sangat besar. Candaan menjadi tawa bersama, ketakutan dan kesedihan menjadi air mata bersama. Dan hal itulah yang merangkai memori-memori indah masa sekolah yang selalu kita kenang.




-Good Luck-

Monday, January 17, 2011

Senin diam...

Aku terpaku. Ya. Hanya mampu terpaku ketika meilihat gundukan tulisan yang terpampang di hadapanku. Rangkaian huruf yang terlihat begitu abstrak, tapi aku memahaminya.


Huruf-huruf itu seolah memanggilku, merayuku untuk melirik dan memusatkan perhatian kepada mereka. Tapi aku tidak mau. Aku menolak mereka mentah-mentah.


Ini bukan karena aku membenci mereka. Aku menyukai mereka dan apa yang mereka tawarkan kepadaku. Tapi hatiku tidak terpatut pada mereka. Hatiku dan Pikiranku terpatut pada hal yang lain.


Aku melihat ke luar jendela. Menatap gundukan tanah yang tidak berbentuk, menatap jalan, menatap sinar mentari, menatap semua hal yang bisa kulihat dari gedung tinggi yang berwarna-warni ini. Aku menghela napas panjang.


Aku galau.


Aku tidak bisa menyatukan apapun yang ada di dalam kepalaku. Semua terlihat begitu kacau. Berantakan. Aku tidak mampu lagi memaksa konsentrasi rapuhku ini untuk memahami semua rangkaian peristiwa yang terjadi padaku.


Untuk kesekian kalinya aku berkata, "Aku muak pada hidupku."


Tapi akhirnya, sebuah kesadaran kecil menyentilku. Membuatku melihat ke arah sebuah figura foto yang tergeletak tidak jauh dari tempatku bergelung. Figura foto yang berisi senyuman bahagia dari para gadis itu, dari laki-laki itu, dan diriku sendiri.
Mataku kembali bertualang. Melihat secarik kertas yang juga tergeletak di hadapanku yang berisi beberapa kata yan gtidak kumengerti, tapi yang paling menangkap perhatianku adalah beberapa tulisan seperti "CGK-PNK"  "28 Januari 2010"  "18.10-19.25"


Semua hal ini membuatku kembali tersenyum. Jariku pun kembali menghentak di atas tuts-tuts hitam yang tengah menungguku di hadapan layar kaca yang menyala terang.


Aku pun kembali  menulis, ditemani suara merdunya. Love Pain...

Sunday, December 12, 2010

The Sweetest Love

Cinta...
Baiklah harus kuakui aku adalah salah seorang manusia yang sangat mengagungkan Cinta meskipun aku tidak tau bagaimana bentuknya ataupun bagaimana rasanya sebuah cinta sejati itu. Meskipun kukatakan bahwa saat ini aku tengah mencintai seseorang, tapi aku tetap masih belum bisa mengerti apakah cinta itu sesungguhnya.


Banyak sekali argumen yang mengatakan bahwa cinta adalah sesuatu yang sakral, suci, dan begitu tulus. Karena cinta, seseorang rela mengorbankan, bahkan meninggalkan segala sesuatu miliknya. Karena cinta, seseorang rela melakukan apapun demi cinta itu sendiri. Bukankah dengan begitu cinta terkesan egois?


Jujur saja, apabila benar cinta itu sedemikian kejam, tega, dan egoisnya, aku takut untuk merasakan cinta.


Tapi dalam beberapa waktu terakhir ini, aku menyadari bahwa cinta itu memang benar adanya. Cinta itu memang ada, tumbuh, berakar, dan hidup bersama kita dengan atau tanpa kita sadari.






Kejadian pertama yang membuatku tersadar akan cinta yang sesungguhnya adalah sebuah cerita cinta antara kakek dan nenekku. Perjalanan hidup yang berat dan panjang, serta sangat menderita membuat pasangan ini tumbuh sebagai pasangan yang keras. Baik kakek ataupun nenekku adalah orang yang sangat keras kepala dan umur yang sudah lanjut membuat hubungan mereka terkesan hambar, bahkan hanya sebagai rutinitas karena hidup berdua di dalam sebuah rumah. Itulah yang kusaksikan sejak aku kecil hingga umurku menginjak 16 tahun.


Akan tetapi, kesaksian dari nenekku mengubah semua pandanganku.


Sembari menangis, nenekku pernah bercerita tentang malam terakhir dimana Kakekku masih memiliki kesadaran setelah sakitnya yang mendera hidupnya selama bertahun-tahun. Jumat malam, dini hari, Kakekku menyentuh pelan jemari nenekku sambil mengucapkan terima kasih atas pengabdian nenekku selama pernikahan mereka. Kakekku juga mengatakan seberapa keras kepala dan egoisnya nenekku, dia selalu mencintai nenekku. Kakek mengucapkan banyak terima kasih atas semua hal yang telah dilakukan oleh nenek. Memberi 7 anak, merawat mereka, bekerja membanting tulang dalam menghadapi kehidupan yang memang tidak mudah, merawat 'istana' kecil mereka, bahkan merawat kakekku yang menderita berbagai penyakit karena usianya yang telah renta.


Aku tersentuh. Pasangan yang telah lanjut usia itu ternyata menyimpan sebuah cinta yang kekal dan begitu suci di balik semua perselisihan yang sering terjadi di antara mereka. Mereka telah berjanji untuk hidup bersama ketika mengikrarkan janji suci perkawinan mereka dan itulah janji yang dibawa sampai ajal memisahkan mereka berdua 4 tahun silam.




Cerita kedua adalah mengenai Papa dan Mamaku. Sepasang manusia yang dari merekalah aku lahir, hidup, berkembang, dan terus bertumbuh sampai saat ini.


Harus kuakui bahwa Papa dan Mama bukanlah sosok yang romantis dan pasangan yang mengumbar cinta di dalam kehidupan mereka sehari-hari. Papa adalah sosok yang keras, tegas, keras kepala, galak, dan lain sebagainya; sedangkan Mama adalah sosok yang sabar, lemah lembut, dan begitu tabah dalam menjalani hidupnya. Kedua orang yang memiliki sifat bertolak belakang ini membuatku terheran-heran bagaimana cara mereka menghadapi kerasnya hidup berumah tangga.


Ketika aku berusia sekitar 4-5 tahun, aku sudah bisa membaca, menulis, karena sejak aku berumur 2 tahun, aku sudah mendapatkan pengajaran khusus untuk hal itu. Karena kemampuanku itulah aku bisa membaca diari yang disembunyikan Mama.


Masih teringat jelas di kepalaku sampai saat ini dimana aku membaca kesedihan dan galaunya hati Mama saat itu. Tekanan yang dihadapinya karena sikap Papa yang keras, serta penolakan dari Tante dan Pamanku (adik-adik Papa yang saat itu tinggal di rumahku) membuat Mama begitu putus asa. Bahkan aku membaca bahwa Mama ingin bercerai dari Papa dan membawaku serta adikku.


Umurku yang masih sangat dini saat itu ternyata sudah mengerti apa itu perceraian dan perpisahan. Dan di saat itu aku menangis dan memeluk adikku yang saat itu berusia 3 tahun serta melihat ke arah adikku yang paling kecil dimana saat itu dia masih bayi. Aku menangis dengan begitu hebatnya sampai Mama masuk ke dalam kamar dan mendapati aku membaca buku hariannya. Di saat itu Mama memeluk aku dan adikku, berulang kali mengatakan maaf. Mama juga menangis, namun tanpa suara karena tidak ingin orang lain tau. Berkali-kali Mama bilang kalau kami tidak boleh menangis. "Mama tidak akan pergi dari rumah ini demi kalian"... itulah kata-kata yang paling kuingat hingga detik ini.


Tahun demi tahun pun berlalu. Cobaan dan cobaan terus datang menghampiri keluargaku. Mama divonis menderita tumor pada payudara dan rahimnya. Aku menyaksikan perjuangan hidup Mamaku melawan penyakit itu ketika rasa sakit itu datang dan semakin menjadi. Sedangkan Papa?
Sejak kami pindah dari rumah itu ke rumah yang lebih besar, Papa yang dingin, yang galak, yang mengerikan itu berubah 180 derajat. Papa yang semula cuek dan selalu bertindak tegas perlahan berubah menjadi Papa yang baik hati, yang senang bercanda, dan mendekatkan diri pada kami.


Aku melihat perubahan besar yang terjadi pada diri keluargaku sejak umurku menginjak 13 tahun.


Kehidupan keluargaku berangsur membaik. Papa dan Mama terlihat harmonis dan bahagia meskipun terkadang mengalami cek cok ataupun Papa memarahi Mama karena hal-hal sepele. Akan tetapi, Mama terus sabar menghadapi Papa, rutinitas pekerjaan rumah, ataupun kami, anak-anaknya yang tumbuh menjadi remaja dan saat itu masih sangat labil.


Dan bahkan ketika aku sudah meninggalkan rumahku dan meniti kehidupanku jauh dari rumah, keluargaku masih merupakan keluarga yang utuh dan bahagia. Aku melihat cinta yang besar dan tulus di dalam rumah sederhana itu dan disanalah tempat terbaik dimana aku merasakan kehangatan.


Namun sebuah pukulan besar melanda keluargaku pada akhir tahun 2009. Di saat itu adalah tahun pertama aku pergi dari rumah, dan pada bulan Oktober 2009, untuk pertama kalinya Papa memberikan kejutan ulang tahun untuk Mama dimana selama 18 tahun hidupku, ulang tahun Mama sudah tidak pernah dirayakan lagi.


Hanya kejutan kecil yang dibuat oleh Papa saat itu. Papa memasak berbagai jenis makanan kesukaan Mama tepat di hari ulang tahunnya. Tentu saja hal itu membuat Mama begitu terharu dan Mama tidak menyangka bahwa Papa dengan sifatnya yang demikian akan mampu melakukan hal tersebut.


Akan tetapi, beberapa hari berselang... Papa terkena stroke dan memberi pukulan besar bagi keluargaku, terutama Mama. Akan tetapi Mama tetap sabar merawat dan menjaga Papa. Dengan setia Mama tidak pernah berhenti mendampingi Papa yang saat itu sangat frustasi dengan penyakitnya yang tidak kunjung sembuh. Papa semakin emosi dan tidak stabil mendapati sebagian tubuhnya yang tidak bisa digerakkan. Lagi-lagi Mama yang menjadi sasarannya.


Tapi Mama tidak menyerah. Mama terus mendampingi Papa, terus menjaga dan merawatnya. Mama tidak peduli dengan semua sakit hati yang didapatnya dari perlakuan ataupun perkataan Papa. Mama mengerti dan sangat memahami semua itu sebagai bagian dari frustasinya Papa. Tiap malam Mama hanya menangis dan berdoa semoga Tuhan memberikan kesembuhan dan kebahagiaan untuk keluarga kami.


Satu tahun pun berlalu setelah kejadian tersebut.


Papa kembali sehat dan keluarga kami pulih kembali. Rutinitas berat yang dijalani Mama tidak pernah membuatnya mengeluh, tapi Mama tetap sabar menjalani kehidupannya. Dan untuk perjuangan Mama yang tidak pernah pupus itulah, Papa tergerak hatinya.


Setelah 20 tahun Papa tidak pernah membelikan hadiah untuk Mama, kali ini Papa berubah menjadi seorang laki-laki yang pernah dikenal Mama 20 tahun yang lalu, sebelum pernikahan mereka. Untuk pertama kalinya dalam hidupku, Papa memintaku untuk membelikan sesuatu kepada Mama sebagai hadiah ulang tahunnya, meskipun sudah lewat. Papa mungkin lupa selera berpakaian Mama, Papa lupa apa yang Mama suka atau tidak. Papa sudah berubah menjadi pria asing di mata Mama selama 20 tahun ini, dan aku tahu Papa sangat menyesal. Oleh karena itu, Papa ingin kembali ke masa-masa itu, masa-masa dimana Papa sangat memperhatikan Mama, menyayangi Mama dengan sepenuh hati dan segenap kemampuannya. Papa mengatakan bahwa Papa sangat bersyukur memiliki seorang istri seperti Mama yang selalu sabar mendampinginya.


Aku tersentak. Aku tercengang. Aku tidak pernah menyangka bahwa cinta Papa untuk Mama sedemikian hebatnya sampai mampu membuat Papa dengan sifat keras dan tegasnya itu luluh demi cintanya kepada Mama.






Rangkaian cerita cinta yang terjadi di sekelilingku ini membuatku tersadar bahwa cinta bukanlah hal yang egois. Memang benar orang-orang akan rela melepaskan miliknya demi cinta. Orang-orang tersebut rela melepaskan semua dari dirinya agar bisa hidup bersama dan berdampingan, sejalan dengan orang yang dicintainya. Bahkan melepaskan ego dan sifat buruk mereka demi melihat senyuman kebahagiaan dari orang yang dicintai mereka.


Aku ingin mengalami dan merasakan cinta yang seperti itu. Cinta yang tulus dan tanpa pamrih. Cinta yang tak berego...
Cinta yang paling manis.




-eurika-

Wednesday, November 24, 2010

Fikom Night UMN 2010

setelah perjuangan panjang dan sangat tidak mudah. Kurang tidur, kejar sana dan sini, menghabiskan sebagian besar waktu untuk beristirahat, dan bahkan menyingkirkan semua urusan rpibadi demi berjalannya Fikom Night akhirnya berbuah manis juga; karena boleh kukatakan bahwa acara malam ini SUKSES BESAR!

Jadi, lewat tulisan kecil di blog ini, aku secara pribadi ingin mengucapkan sebuah ucapan terima kasih yang menyukseskan acara ini. It's totally fun dan juga meninggalkan sebuah memori yang gak bakal pernah dilupakan seumur hidup. Thanks for all crew, seniors, our supporter, friends, and for Raditya Dika too for coming to our Campus.

Nice job guys and good night. have a nice dream after these long journey. ^^

Saturday, November 20, 2010

Mood

Setelah tertidur selama 12 jam, aku bangun dalam kondisi yang benar-benar memprihatinkan. Kedua mataku bengkak, lutut kanan kambuh lagi dan membuatku susah berjalan, ditambah lagi dengan rambut yang mengembang ala setan. Astaga. Aku merasa aku seperti melihat setan ketika melihat pantulan diriku di cermin.

Lebih parah lagi, ketika aku selesai mandi, aku mendapati beberapa sms yang kuterima pagi (well... siang mungkin) ini. Yang pertama, sms dari Mama yang masih saja mengomel aku untuk mengecek harga tiket dan setelah kucek, harganya masih saja 1jutaan. Astagaaaa... Berikutnya. sms dari dia yang mengatakan bahwa hari ini aku batal nonton Harry Potter yang sudah kutunggu-tunggu selama berbulan-bulan. Sumpah abis. Aku benar-benar emosi dan marah-marah gak jelas.

Moodku langsung saja jatuh, hancur, dan berantakan; padahal disaat yang bersamaan aku harus menilai essay-essay yang sudah masuk. Jesus.... Oh My God. Gimana aku bisa menilai dengan objektif kalau semuanya berantakan seperti ini?

Akhirnya aku memutuskan untuk menutup semua tampilan essay yang sudah kubuka ketika menyalakan si Ojongmarojong, laptopku yang tersayang; dan membuka google. my beloved Mbah untuk mencari-cari data tentang SHINee ataupun B2ST dan foilaaa... I found a lot of my beloved, my darling Kim Jong-hyun's photo dan sangat otomatis moodku naik lagi. HAHAHAHAHA.... That boy always know how to make me smile again. He's my mood booster.

Dan sebelum aq kembali ngecek essay, I'll give some piccu of my Jjong. Take a look. ^^



Wednesday, November 3, 2010

Pura-pura

Aku baru menyadari kalau yang namanya menyembunyikan perasaan itu adalah hal yang benar-benar sangat susah. Bagaimana tidak, kau harus bertahan dengan sebuah senyum palsu di wajahmu ketika kau ingin menangis, atau kau harus terpaksa berkata tidak apa2 meskipun kau tau bahwa hatimu tidak begitu.


Sakit sekali.


KIta membuat sebuah kebohongan ketika berpura-pura. Kita membohongi orang lain dengan mencoba memberitahu kondisi kita-yang sebenarnya tidak seperti apa yang mereka lihat-. Kita menipu diri kita sendiri dengan meyakinkan bahwa kita masih kuat, kita bisa, padahal kenyataannya tidak!




Hari ini aku melihat seseorang. Aku menangkap seraut wajah yang tidak bahagia sama sekali. Ada guratan penyesalan, kesedihan, dan rasa bersalah yang teramat sangat di wajah itu. Tapi dia tidak mengganti kesedihannya itu dengan topeng senyuman atau tawa. Dia tetap memakai wajahnya yang seharusnya itu dan tidak berniat mengganti wajah itu dengan wajahnya yang lain.


Kenapa dia tidak tersenyum saja biar orang lain tidak terganggu?! Begitulah yang kupikirkan saat itu juga bersamaan dengan perasaanku yang seolah merasakan kepedihan yang dia rasakan.


Akan tetapi, ada sisi lain dari diriku yang mencoba menyadarkanku akan sebuah kejujuran kecil yang dia lakukan. Ada bagian dari diriku yang mencoba mengatakan bahwa apa yang dia lakukan itu benar.


Akhirnya aku tersadar. Raut kesedihan itu bukanlah sebuah hal salah apabila dia tunjukkan. Dia sedang mencoba menguras rasa sakitnya itu keluar melalui ekspresi wajahnya.


Melalui ekspresinya, aku dapat merasakan sebuah rasa sakit yang seharusnya tidak perlu kurasakan. Tapi disaat bersamaan, ekspresinya juga menyadarkanku tentang arti dari kejujuran, meskipun sangat kecil dan mungkin terkesan mengganggu. Aku mempelajari sebuah kejujuran kecil yang dibuatnya. Sebuah kejujuran yang mungkin sudah tidak lagi diperdulikan semua orang. Tapi tidak ada salahnya kita belajar jujur hanya melalui ekspresi wajah. 

Saturday, October 30, 2010

100 kata



Hanya diam dan duduk disini memang tidak mudah.
Apalagi kedua mata ini terus menyaksikan bencana di luar sana dan kedua telinga hanya bisa mendengarkan sahutan dari mereka yang tidak kukenal.

Menyedihkan.
Mendapati pemandangan mengerikan di tanah air ini.

Menyedihkan.
Seharusnya satu kata itu dapat mewakili ratusan kata yang ingin kuteriakan pada orang-orang yang duduk di gedung hujau sana.

Menyedihkan.
Melihat mereka menikmati uang yang seharusnya tidak pantas mereka genggam.

Menyedihkan
Ketika melihat sebuah kenyataan yang berbanding terbalik antara para manusia berdasi itu dengan korban bencana.

Menyedihkan.
Hanya satu kata itulah yang ingin kuungkapkan dalam sebuah catatan 100 kata ini.

Menyedihkan.

Wednesday, December 23, 2009

da tears drop AGAIN

Ada filosofi yang mengatakan bahwa kekuatan seorang wanita (well… cewek) adalah di air matanya.

Air mata seorang wanita bisa mengandung banyak sekali arti.

Kebahagiaan, rasa bangga, kerinduan, sakit hati, ketakutan, kasih sayang… semua bisa diungkapkan dengan air mata.

Berbeda dengan pria yang hanya menangis untuk mengungkapkan kesedihan mereka, ataupun ketika mereka mendapatkan sesuatu yang benar-benar mengaduk-aduk emosi mereka.

Ini adalah nilai tambah untuk wanita. Nilai tambah untuk kekuatan seorang wanita.


Namun…

Terkadang aku ragu dengan filosofi ini.

Sebenarnya bukannya aku ragu…

Tapi lebih tepatnya aku berpikir… Apakah aku memang pantas disebut sebagai wanita “kuat” yang mampu mengungkapkan segalanya melalui tangisan dengan SANGAT MUDAHnya???


Filosofi itu agaknya tidak pantas untukku, mungkin bahkan sangat tidak pantas untukku.


Aku memang sangat mudah menangis *seperti yang sedang terjadi saat ini*.

Waktu kelelahan dengan semua rutinitasku *yang kurasa teman2ku tidak pernah merasakannya*…

Waktu aku merasa kecewa dengan semua pencapaian yang kurasa kurang…

Waktu aku rindu dengan keluargaku yang ada jauh di sana… *well ini mungkin wajar. Tapi menjadi tidak wajar hanya karena aku mengingat secuil kenangan tentang mereka dan aku menangis tanpa melihat situasi dan tempat.* HOMESICK~

Waktu aku merasa kesal dengan perbuatan orang lain padaku… Aku menyalahkan diriku sendiri, bukannya mereka *yang mungkin jelas2 kalau merekalah yang salah.*

Waktu aku merasa dilupakan…

Waktu aku merasa sendiri…


Semua itu mengarahkan pikiranku pada ketakutanku yang sebenarnya sangat berlebihan.

Aku terlalu takut apabila aku tidak bisa melakukannya dengan baik.

Aku terlalu takut apabila aku tidak bisa membahagiakan keluargaku.

Aku takut apabila aku sendirian… aku takut dilupakan… aku takut…

Tuesday, December 22, 2009

I hate holiday!!

I hate holiday!
Kata2 ini memang terdengar sangat aneh.
Sapa sih orang bego yang gaq suka dengan hari-hari tanpa tugas, hari-hari santai, hari-hari buat having fun??

sebenarnya gw bukan orang ynag benci hari-hari seperti itu.
tapi yang gw gaq suka adalah kesendirian di hari libur.

Ugh~
I'm totally hate this long holiday.

Gimana gaq benci liburan ini?
gw HARUS melewati hari-hari libur ini dengan semua kebetean... semua kesendirian... semua kebosanan yang bikin gw gondok abis.

Huyuh~~~

liburan kayak gini bukannya gw habisin dengan santai-santai, jalan-jalan...
Tapi yang ada... gw malah serasa mati kebosanan...
udah gaq bisa pulang ke hometown... gaq bisa ketemu bonyok n adek2...
eh...
gw malah seolah diplupain oleh semua orang.
grrr~~~
gaq ada satupun sms yang masuk sejak pagi...
gaq ada satupun telpon *selain telpon dari Mama*...
pas oneln jugaqh...
blank!!!
gaq ada satupun orang yang nanyain kabar gw.
Ou.Em.Gee...
Parah banget sih liburan gw?

uhuhu~
sedih banget!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

Monday, March 16, 2009

My Confessions..

Sahabat...
Sebenarnya apa arti dari sahabat?
Bagiku, sahabat adalah ketika kau terjebak di dalam masalah, dia tidak akan langsung berlari menghampirimu untuk membantumu keluar dari jurang masalah. Namun sahabat adalah seseorang yang membiarkanmu belajar untuk mengenali kesalahanmu, dan dengan perlahan dia akan menuntunmu keluar dari masalah dengan memberikan nasehat dan membiarkan kita berpikir sendiri bagaimana kau bisa keluar dari masalah itu. Nantinya kau akan belajar untuk keluar dari masalah dengan usahamu sendiri. Dengan begitu kau tidak akan terjebak di jurang masalah yang sama.
Namun aku tidak menemukan sosok itu di dalam diri sahabatku.
Dia terlalu sibuk dengan semua argumennya dan pikirannya sendiri dan selalu menyelesaikan semua masalahku tanpa sepengetahuanku. Dia menyelesaikan semuanya dengan caranya sendiri; namun masalah itu tidak pernah selesai. Muncul lagi masalah baru dan ketika hal itu terjadi, dia akan meninggalkanku sendiri dan membuatku yang harus menyelesaikannya.
Apakah dia yang layak kusebut sahabat?
Sedangkan di sisi lain, aku malah menemukan sosok seorang sahabat pada diri seseorang yang tidak terlalu mengenalku.
Diakah sahabatku yang sesungguhnya??




Today's most remembered event:
Gelo!!
Maq gw akhirnya menghadap Maq gw yang satunya lagi.
Tapi untungnya ketemunya cuma sebentar aja. Hahaha...
Maq gw yang asli gaq jelek2in gw, Maq gw yang satunya lagi juga gaq ada bilang semua kejelekan gw di skula.
*Halleluya!!! Halleluya!!!*
So... Mulai hari ini gw harus jadi anak baek. Bener2 anak baek!! Kagak ada maen2 lagi. Buat "masa depan" gw *hoex... HLL*
*seperti yang dibilang tadi sama 2 Maq gw ntu*
Hohohohoho...

Okeyh!!
UN tinggal 35 hari lagi!!
Usaha!! Berjuang!! Belajar!! Dan berdoa!! I can do it!!

NB : Try out tadi macam b***!!!! Ada yang kagak sesuai sama SKL!!! Banyak yang gaq ada jawaban!! Sapa sich yang buat soal!! Gaq liat SKL apha?!! *nyesel gw uda belajar!! Gaq ada guna.*

Sunday, March 15, 2009

Meaning of a friend for me

Friend..
is small part of the world..
But has a big meaning in my life.

Friend..
is a person who always teach me to learn a "right" from a "wrong"..

I can't stand without you.Not because I need you to be with me when I'm sad,or to be the person whom I shared my joy with.But I NEED YOU TO COMPLETE MY LIFE.I don't know what this life would be if I've no one like you.

So please..Don't ever told me to forget you and find the other person to be my friend.You never know that there's no one can replace you in my heart.

I Love you,friend..
Now..And 'till forever..

Saturday, March 14, 2009

Putus asa..

Hari ini gw bener2 putus asa..
Banyak masalah hari ini.

Yg pertama..Dapat undangan resmi dari skula tercintah.Jadi mau gaq mau,Mama harus datang k skula hari Senin ntr.*akibat gaq mau belajar.*

yg kedua..Gw makin broken heart..Gelo..Bener2 broken heart..
Sepertinya gw harus ngelupain perasaan bego ini..Perasaan bego yg tiba2 muncul.
*datang gaq dijemput,pulang gaq diantar.Hahaha..*

gw harus gimana?
Kenapa banyak masalah muncul sekarang?Gelo..!37 hari lagi UN..!